Dendyrizal

Gerbong Sebuah Nama.

1 Komentar

Langit tak sebiru biasanya, abu pekat berbaur dengan kuning berkilauan. Burung-burung pun menghitam berlindung di balik gelap rindang pohon. Udara yang hampir saban hari panas, hari ini tiba-tiba lembab dan dingin. Sekiranya itu yang bisa kugambarkan dari balik gerbong kereta, tentang kondisi alam yang menemaniku hari ini.

Udara dingin telah menyentuh lembut kulit-kulit telanjang penumpang, aku tak luput. Jaket yang melindungi badanku tak mampu menyelamatkan jari-jemari kedinginan. Beda dengan orang di sebelahku. Badan besarnya sepertinya mampu menumbangkan udara-udara dingin yang ingin menghampiri, takut sepertinya. Sedang aku sendiri, sibuk memperbaiki posisi duduk sedari tadi, mencari posisi paling hangat. Gerbong kereta berjalan perlahan, menandakan rel sedang tidak bersahabat, bekas guyuran hujan semalam membuat rel melicin.

Perkenalkan, aku adalah Tunggul. Seorang pribumi kelahiran Panggul. Menurut cerita Ibuk, Tunggul adalah singkatan yang berasal dari kalimat ‘metu neng Panggul’. Kalimat tersebut memiliki arti keluar di Panggul. Sekiranya itu cerita singkat tentang asal-usul nama ini. Aku adalah mahasiswa salah satu sekolah tinggi Belanda di Malang. Sudah setahun ini aku bersekolah disana, menuntut setiap ilmu yang dijanjikan peradaban modern Eropa. Sebagai seorang pribumi, memasuki sekolah tinggi adalah hal yang sulit. Untung saja bapakku adalah seeorang pegawai negeri Belanda. Beliau adalah seorang guru di salah satu sekolah yang ada di Pulau Madura. Dengan latar belakang orang tua yang seperti itu, menjadi mahasiswa sekolah tinggi Belanda bukanlah hal yang mustahil, meskipun berat dan memang tidak ada jalan yang mudah dimanapun, untuk pribumi manapun.

Perjalanan kereta berlanjut, gerbong semakin lama semakin kencang melaju. Posisi dudukku pun telah sedikit lebih nyaman meski udara dingin masih sering menusuk kulit-kulit telanjangku. Perjalanan kereta Surabaya-Malang seringnya hanya berkisar antara 2-3 jam saja. Tapi, ini sudah satu jam perjalanan, kereta masih saja berkutat di rel-rel dalam kota Surabaya. Terlihat beberapa orang masuk ke dalam gerbong saat kereta berhenti di salah satu stasiun kecil di pinggiran Surabaya. Ada yang membawa anak, istri. Banyak pula yang membawa koper berukuran besar, aku yakini isinya pakaian dan mereka adalah pegawai atau mahasiswa di Malang sama sepertiku. Satu persatu merapikan barang-barangnya dan mulai duduk di kursi-kursi kayu tegak.

Keadaan ramai dan riuh tidak membangunkan orang di sebelahku yang masih saja asik dengan mimpinya. Dan sepertinya hal itu akan terus dinikmatinya hingga nanti. Kereta yang bergerak perlahan telah melakukan beberapa perhentian, banyak penumpang yang masuk tetapi belum ada yang mau menempati kursi dingin di depanku. Biarlah. Sepertinya aku hanya akan menikmati perjalanan ini sendirian dan memang takdir mataku untuk tidur nyenyak di sepanjang perjalanan ini. Ku rapikan posisi dudukku lagi dan aku mulai mencoba memejamkan mata.

Tak sampai mata terpejam, suara sepatu dengan sol dari kayu membangunkanku. Tiba-tiba di depanku ada yang tengah sibuk menaikkan tas ranselnya ke rak barang  di atas tempat duduk. Tanpa diperintah, tubuhku pun langsung berdiri, dengan sigap menolong perempuan yang sepertinya sedang kesusahan menata barangnya. Hanya dengan sekejap saja semua barangnya telah rapi dan ia pun  berterima kasih. Ia duduk tepat di depanku. Tepat sejajar dengan pandanganku. Kursi dingin itu pun telah memiliki teman untuk membagi kehangatan dan mungkin aku juga telah memiliki teman baru untuk menikmati perjalanan.

Hanya butuh waktu sebentar untuk membuat dirinya sendiri nyaman. Perempuan itu pun langsung memulai pembicaraan.

“Terima kasih sudah membantu merapikan barang bawaanku” ucapnya mengulang terima kasih.

“Ah, bukan apa-apa memang seharusnya aku membantu.” Jawabku dengan malu.

Percakapan singkat itu berakhir, aku yang masih sering malu-malu terhadap perempuan tidak memiliki keberanian lebih untuk memperpanjang percakapan. Ia pun tengah sibuk dengan buku-buku catatannya yang ia keluarkan dari tas pinggangnya.

Keretapun kembali melaju, sudah barang sejaman kereta meninggalkan kota Surabaya dan mulai memasuki perbatasan Sidoarjo dan Pasuruan. Di tengah ketidak nyamana posisi dudukku, perempuan itu menyambarku dengan pertanyaan.

“Mau pergi kemana mas? Malang?”

“Iya, mau kembali ke Malang” jawabku singkat.

“Kembali? Ah sudah lama pasti tinggal di Malang? Mahasiswa juga?”

“Iya mahasiswa. Sudah setahun ini tinggal di Malang”

“Wah, sama. Aku juga sudah setahun ini tinggal di Malang. Sekolah dimana?”

“Aku mahasiswa di sekolah tinggi Belanda” jawabku seadanya.

“Oh ya? Ah! Kita satu sekolah rupanya. Kebetulan sekali kita bisa bertemu di atas kereta ini”.

“Iya, kebetulan sekali kita bertemu di perjalanan ini. Kalau boleh tahu, asal dari mana? Wajahmu seperti bukan wajah perempuan jawa” tanyaku penasaran.

“Aku memang bukan orang jawa, ibuku Bugis, ayahku Belanda. Aku berasal dari Makassar”.

“Ah, Sulawesi, belum pernah aku kesana. Bagaimana keadaan disana, sama seperti keadaan di Jawa?”

“Jangan tanya keadaan, semua serba Belanda disana, lebih Belanda dari pada disini, aku membenci kebelandaan mereka, makannya aku merantau ke Malang”

Kereta pun terus melaju, aku melanjutkan obrolanku dengannya. Obrolan berlanjut apa adanya, kadang saling diam dan tiba-tiba saling sahut bertanya. Detik berlalu, setiap jengkal rel kereta dihempas. Tidak terasa semakin mendekati Malang, udara semakin dingin. Tapi tetap saja pria besar di sebelahku tertidur. Jari jemari segera mencari lubang-lubang kantong jaket atau pun celana. Begitu pula dengan perempuan yang ada di depanku. Meskipun seorang indo kondisi tubuhnya masih sama seperti pribumi. Jari-jemarinya masih mencari kantong hangat di samping jaketnya. Matanya lunglai, beberapa kali mulutnya menguap. Sepertinya dingin telah membuatnya mengantuk. Tak berapa lama, ia pun tertidur. Bersandar erat kepada kursi. Obrolan kami pun berakhir.

Dan aku masih saja mencari posisi duduk terbaik untuk mengurangi hawa dingin sedari tadi. Dengan posisi tegak dan paha kiri aku letakkan di atas paha kanan, akhirnya posisiku sedikit lebih nyaman dan tinggal menunggu dingin membawaku ke alam mimpi dan benar saja, beberapa saat kemudian aku tertidur.

Hanya sekitar 30 menit mataku tertidur, kereta sudah membunyikan peluit panjangnya, pertanda stasiun Malang hanya tinggal beberapa ratus meter lagi. Pria besar yang duduk di sebelahku juga sudah tidak ada, sepertinya sudah turun di stasiun sebelumnya saat aku tertidur. Tertinggallah di gerbong ini hanyalah aku dan perempuan di depanku. Tidak mengherankan jika begitu adanya, karena memang ini merupakan pemberhentian terakhir kereta ini. Perempuan itu juga sudah bangun dan sudah menyibukkan diri dengan buku-bukunya lagi. Aku langsug bergegas membereskan barang bawaanku untuk bersiap turun.

“Ah, kita sudah sampai?” Ia tiba-tiba bertanya dengan mata masih setengah tenggelam dalam bukunya.

“Belum, masih 300 meter lagi”.

“Buku ini membuatku lupa sekitar. Mas, bisa tolong kau ambilkan barang-barangku di atas?”.

“Baiklah, cepatlah bergegas sebentar lagi kita sampai”.

Setelah barangnya kuambilkan, aku bergegas merapikan sisa-sisa barang bawaanku, begitu halnya dengannya. Tepat pukul 10.00 atau setelah 4 jam perjalanan dari Surabaya, kereta pun tiba di Malang. Kami berdua pun turun, berlalu menuju pintu kedatangan. Kami tidak banyak bicara, hanya kegelisahan bercampur lelah dan kedinginan yang kami adu saat menunggu kedatangan bis kota.

Tak seberapa lama, ia, perempuan itu menghampiriku. Ia berpamitan bahwasanya mobil untuk menjemputnya telah sampai. Ia menawariku tetapi aku menolaknya. Ia pun berlalu sementara aku masih menunggu kedatangan bis kota. 15 menit kemudian bis kota pun datang, barangku yang tak seberapa banyak kumasukkan di bagasi dan aku langsung menuju ke dalam bis, mencari tempat duduk. Perjalanan menggunakan bis kota hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit, mengitari beberapa sudut kota Malang sebelum akhirnya tiba di terminal terdekat dengan tempat tinggalku. Sepanjang perjalanan di dalam bis kota aku merasa ada sesuatu yang tertinggal, ada yang terlupa dari perjalanan sebelumnya. Aku terdiam beberapa saat di dalam dinginnya bis kota, dan sialnya aku sadar aku lupa satu hal, sebuah nama. Atau lebih tepatnya aku lupa untuk menanyakan sebuah nama. Ah!

Iklan

Penulis: masdendy

I'm Indonesian and I proud of it!

One thought on “Gerbong Sebuah Nama.

  1. Kereta memang selalu memberikan cerita tersendiri. Menarik! Sudah seperti baca Novel.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s