Dendyrizal

Solo, Sihirnya Menyejukkan

Tinggalkan komentar

Ah indanhya sore hari ini, mendungnya awan diluar dan kumpulan musik akustik yang bersenandung di telinga. Sengaja ku luangkan sejenak waktu di sore ini untuk menulis sembari mendengarkan lagu-lagu dari Payung Teduh. Hanya laptop dan ingatan yang berusaha ku jadikan fokus kali ini. Ingatanku pun tertuju pada satu topik, pada satu hal yang harus kutuangkan ke dalam mesin ini, yaitu Solo.
Kontes Tulisan Tentang Solo

Baru pertama kali mengunjungi Solo adalah kesalahanku. Akan kucoba ceritakan kembali pengalamanku itu, pengalaman yang membuatku merasakan sihir dari Kota Solo. Niatku mengunjungi kota itu bukan hanya sekadar untuk menikmatinya, tapi ada acara yang harus aku datangi. Tetapi itu tak membuatku kehilangan sihir kota ini.

Hal pertama yang ku rasakan dari kota ini adalah keramahan orangnya, rasanya sudah lama tak merasakan keramahan ini. “Orangnya ramah ya” Sahutku dalam hati ketika mendapatkan bantuan dari salah satu warga kota ini. Ia rela menghentikan pekerjaannya sejenak hanya untuk mengantarkan rombonganku ke salah satu hotel. Sialnya, tak dapat kutemui lagi wajah orang yang sudah aku lupakan itu di galeri fotoku.

Kejadian diatas adalah kejadian di jalanan. Tempat yang menurut beberapa orang keras, tapi tak kurasakan lagi kerasnya selama disana. Setibanya di hotel tempatku menginap, keadaan tak berubah. Para pegawai yang menggunakan pakaian khas Solo masih tampak ramah menyambut, meskipun kutahu itu sudah cukup sore untuk membuatnya lelah bersikap ramah.

Aku pun menunaikan kewajibanku sebagai seorang hambdi dalam kamar hotelku. Kudengar dulu Solo atau pun Jawa Tengah merupakan daerah yang mempunyai penduduk non islam yang tak sedikit jumlahnya dan cenderung lebih banyak dari pada yang ada di Jawa Timur, tempat asalku. Tapi apa yang terjadi? aku masih mendengar adzan disini, masih pula kudengar gonggongan anjing di kejauhan yang menandakan kebhinekaan masih terjaga disini. Semoga apa yang kurasakan ini masih bisa kurasakan lagi nanti ketika aku berkunjung ke kota ini lagi.

Terima kasih kepada siapa pun yang telah menjadikan Solo seperti apa yang kurasakan. Orangnya yang ramah kulihat tak segan untuk sekedar meluangkan waktunya untuk menonton pertunjukan tradisonal. Buktinya pertunjukkan tarian tradisonal di Mangkunegaran ramai sekali, sangat bertolak belakang dengan apa yang selama ini kurasakan di daerah asalku. Kulihat para muda-mudinya pun tak segan untuk turun tangan melanjutkan tradisi dan kesenian yang ada.

Antusiasme masyarakat

Antusiasme masyarakat

Penari di Mangkunegaran

Tak lupa juga kunikmati salah satu genre musik keren, Keroncong namanya. Dua kali rasanya aku mendengarkan musik ini selama disana, yang pertama disaat jamuan makan malam di Loji Gandrung dan yang kedua di jalanan sekitar Mangkunegaran. Entah, mengapa aku bisa begitu suka dengan musik ini. Dan yang disajikan di Loji Gandrung benar-benar membuat rasa penasaran untuk mendengarkan musik keroncong secara langsung hilang seketika. Ada beberapa lagu yang sebelumnya hanya kudengar dengan format mp3 maupun kaset-kaset tape tetapi pada saat itu kudengar dan kusaksikan secara langsung. Secara tidak langsung kaki ini mulai menghentak, kepala mulai mengangguk dan bibir mulai menggeliat mengikuti alunan musik itu.

Kusambangi juga Keraton Solo, kurang lebih 3 jam kuberada di dalam bangunan megah itu. Keindahan arsitektur khas kerajaan jawa, dan kerindangannya yang membuat diri ini begitu betah. Tapi ada yang harus diingat ketika mampir kesini, kesopanan namanya. Jadi, pakailah pakaian yang sopan, berkata lah kata yang sopan, dan bertingkahlah yang sopan. Di dalam tempat ini juga aku mencoba memakan makanan yang setelah kutanya namanya “Selat”. Bukan bermaksud tidak sopan tetapi memang lidahku tidak begitu cocok dengan santapan ini, mungkin karena lidah ini terlalu asin dan selat terlalu manis sehingga tidak menyatu dengan baik setelah dimakan. Sepertinya lidah ini harus sering-sering memakan yang manis-manis.

Keraton Solo

Keraton Solo

Selat, Makanan Khas Solo

Kalau ke Solo jangan lupakan untuk menaiki Jaladara dan Werkudara. Dua transportasi wisata yang dimiliki kota ini yang siap membawa anda mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada di kota ini. Jaladara sendiri adalah kereta uap, entah peninggalan Belanda atau Jepang. Sedangkan Werkudara adalah bus tingkat seperti yang ada di jalanan kota London.

Bus Werkudara

Cerobong Asap Jaladara

Banyak hal yang membuatku iri akan kota ini, acaranya, orangnya, ketradisionalannya, keroncongnya, dan jalanannya. Setelah pulang dari Solo ku buka sebuah buku kecil yang cukup tebal, kudapat ini pada saat kunjunganku ke Loji Gandrung. Di buku itu dijelaskan banyak sekali event-event yang diselenggarakan di kota ini. Mulai dari acara musik hingga ke kirab budaya. Mulai dari keroncong hingga rock.

Dari cerita saya tadi, alasanmu untuk berkunjung ke kota ini telah lengkap. Datang sajalah, nikmatilah dengan santai, dan tularkan apa yang ada di kota ini ke kotamu. Bayangkan saja jika semua kota seperti ini, akan ada lebih banyak lagi orang yang ramah dan baik, akan lebih kental Bhinneka Tunggal Ika yang kita anut, akan lebih banyak kesenian dan tradisi yang akan kembali terangkat, dan akan lebih banyak lagi acara-acara menarik di masing-masing kota.

Info : Foto-foto diambil dari kamera Silvianaplle

Iklan

Penulis: masdendy

I'm Indonesian and I proud of it!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s