Dendyrizal

We Learn But We Lost

1 Komentar

          Dalam hidup ini, mulai dari saat kita terlahir hingga nanti kita mati. Sadarkah apa tugas kita sebenarnya? Tugas selama hidup itu apa? Sadarkah? Tahukah? Yaps, tugas utama kita selama hidup adalah untuk belajar. Belajar memahami sesuatu yang sebelumnya tidak dipahami. Belajar untuk menjadi lebih baik dari apa yang sebelumnya ada.

Semenjak bayi kita sudah mulai belajar, bahkan sejak kita pertama kali keluar dari rahim kita belajar, kita belajar menangis, kita belajar melihat, dan kita belajar berinteraksi dengan gaya dan bahasa yang sederhana.

Lalu kita menginjak masa anak-anak, masa dimana kita bisa berbuat apapun semau kita. Masa dimana semuanya menjadi sebuah mainan dan makanan. Masa dimana belum ada pikiran tentang hidup dan isinya. Pada saat itu kita bisa belajar dengan berbagai sarana yang telah ada. Sarana yang memang diciptakan untuk bermain bukan untuk seutuhnya belajar. Karena bermain adalah suatu modus untuk belajar pada saat itu. Maka dibentuklah TK, sebuah sekolah yang seharusnya masih menjadikan “Bermain sebagai Modus untuk belajar”.

Dan ada Sekolah Dasar, dimana kita diberi dasar, dasar berhitung, menulis, dan membaca. Masih tersisa modus-modus itu di masa ini, tetapi semuanya perlahan hilang dan hilang. Kecerian masa anak-anak pun terenggut oleh egoisme ketidak pahaman sebuah sistem akan sebuah kebutuhan nyata sebuah kehidupan, kehidupan masa anak-anak. Dan di Sekolah Dasar pun kita tidak lagi diajarkan bicara seperti disaat kita masih menjadi balita.

Setelah kita lulus, lagi-lagi kita harus mengikuti sebuah sistem dimana sistem itu memaksa kita untuk terus mengikutinya ke Sekolah Menengah Pertama. Masa sudah berubah, sekarang kita berada di masa dimana kita disebut “remaja”. Masa dimana kita diajarkan lagi apa yang kita peroleh dari masa sekolah sebelumnya. Kita belajar lagi membaca, menulis, dan berhitung dan sekali lagi kita tidak diajarkan bagaimana cara berbicara dan bertambah lagi kita tidak diajarkan cara berpikir. Sistem pun beralasan bahwa kesamaan hal yang dipelajari adalah pengembangan dari apa yang kita terima sebelumnya.

Luluslah kita dari Sekolah para remaja itu, sekarang kita berada di masa dimana “seharusnya” kita mulai untuk belajar dewasa dan berpikir. Tetapi kita tetap dipaksa untuk mengikuti sistem yang sama dengan alasan yang sama pula. Tidak ada perubahan bung! Kita tetap diajari cara membaca, menulis, dan berhitung yang sama. Hanya saja disaat yang katanya “masa terindah” ini kita mulai sedikit belajar tentang kehidupan, tetapi bukan tentang kehidupan yang seharusnya dipelajari. Kita mulai “lebay kita mulai menangis karena “perasaan” dan kita mulai untuk bercumbu satu dengan lainnya.

Lalu kita lulus dan terbebaslah kita dari sistem itu. Lalu apa yang terjadi? Terjadilah bencana kebingungan, bencana ketidak-tahuan, dan bencana ketidak-bisaan. Apa yang kita bingungkan? Apa yang kita tidak ketahui? Apa yang kita tidak bisa? Kita bisa Membaca, Menulis, dan kita juga bisa berhitung. Rupanya kita masih belum sadar, kita masih ter-nganga dalam euforia kesuksesan kita menyelesaikan sebuah sistem, kesuksesan kita mendapatkan ijazah, dan kesuksesan kita membaca, menulis dan berhitung.

Yang jadi pertanyaan adalah, apakah kita mampu berpikir sekarang? Apakah kita bisa berbicara sekarang? Apakah kita masih bisa bergantung kepada sistem sekarang? Tidak! Kita belum mampu berpikir, kita belum mampu berbicara, dan kita belum mampu melepaskan diri dari sistem itu.

Itulah saat dimana kita sadar bahwa kita belajar tetapi disaat yang sama kita juga kehilangan, kehilangan apa yang seharusnya kita pelajari, apa yang seharusnya kita perbuat. Kita tidak akan menggunakan lagi Aljabar, kita tidak akan menggunakan aturan-aturan yang baku itu untuk memulai pembelajaran yang baru. Tidak ada kata terlambat untuk belajar, Kita mulai sekarang atau nanti itu sama saja tetapi hasil akhirnya akan membedakannya. Tetapi dengan kita berani memulai saja, akan ada yang kita dapatkan.

Marilah kita belajar apa itu kehidupan, apa yang diminta kehidupan, dan apa yang harus kita lakukan di kehidupan itu. Kita memulai belajar dari awal lagi, kita memulai untuk membuat kurikulum kita sendiri, sistem kita sendiri, sistem yang tidak terpaku dengan sistem-sistem yang lainnya, sistem yang tidak sama, dan sistem yang tidak menyama-ratakan. Dan itulah Kelas Kehidupan, Kelas berbicara lancang yang benar serta baik, dan kelas berpikir kritis, berpikir penuh ide dan solusi.

Jika telah berhasil memulai kelas itu maka kita akan mendapatkan apa yang hilang dari proses belajar kita, sekali lagi tidak ada kata terlambat untuk memulainya. Dan saya menegaskan bahwa Sekolah itu tetap penting dibalik semua kekurangannya di zaman yang seperti ini. Kita harus tetap sekolah dan kita tetap harus mendapatkan apa yang hilang. Kita tetap harus Belajar setelahnya. Dan kita tetap harus membaca, menulis, berhitung, berbicara, dan berpikir seperti yang seharusnya.

Iklan

Penulis: masdendy

I'm Indonesian and I proud of it!

One thought on “We Learn But We Lost

  1. Yeay! sebuah “sistem” pendewasaan diri. Pasti ada hikmahnya. Tak akan ada perbuatan baik yang sia-sia. Belajar teruslah, Nak! *duh, sok jadi guru*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s